Aku teguk air. Perlahan-lahan. Tersekat.
Mata aku digenangi.
Teringat akan adik yang sedang lagi letih dan lena tidur.
Dikejut bangun untuk menjamah lauk yang aku panaskan, dia enggan.
Letih sungguh dia di usai kelas. Dan aku mengerti.
Tetapi dikarnakan apa, aku ngerasa benar-benar sayu.
Seolah lauk ini adalah yang terakhir aku sajikan buat adik.
Dan aku terfikir... apabila nanti ketika aku sudah tiada,
Apakah mereka-mereka di dunia akan merindukan kewujudan aku?
Atau, aku yang telah dipisahkan daripada dunia mereka - yang bakal
menanggung sakit pedih akibat merindui mereka?
Mahu disentuh digenggam tangan mereka, tidak terdaya.
Karna di waktu itu, aku cuma sekeping roh yang menerawang
memerhati orang-orang di dunia yang aku rindukan.
Sedangkan di waktu itu, aku di pisahkan daripada dunia mereka.
Buat bunda, ayah, abang, serta adik-adik,
Terus-teruskan merindui aku.
Disember 2013
Rumah aku
May 20, 2016
Konkrit
Kau tidak akan
dapat jangka
apa akan jadi
kalau hati aku
sudah sekeras
konkrit.
Oktober 2013
Pasar Seni
dapat jangka
apa akan jadi
kalau hati aku
sudah sekeras
konkrit.
Oktober 2013
Pasar Seni
Labels:
Puisi
May 15, 2016
Di Paksi Asing Sendiri
Ketika melihatkan sepasang manusia
yang bercinta dan bahagia,
aku mempersoal angin
yang menghembusku – tentang keadilan.
Aku mempersoal bunyi keretapi
yang menderu di dekatku – tentang kepalsuan.
Aku mempersoal detakan kaki para strangers
yang melewatiku – tentang kemahuan.
Aku mempersoal anak kecil
yang dipelukan bokapnya – tentang kebohongan.
Tetapi tidak ada yang bisa menjawabkan persoalan aku
lantas aku dibiar sendiri.
Mei 2016
Stasiun Bandar Tasik Selatan
yang bercinta dan bahagia,
aku mempersoal angin
yang menghembusku – tentang keadilan.
Aku mempersoal bunyi keretapi
yang menderu di dekatku – tentang kepalsuan.
Aku mempersoal detakan kaki para strangers
yang melewatiku – tentang kemahuan.
Aku mempersoal anak kecil
yang dipelukan bokapnya – tentang kebohongan.
Tetapi tidak ada yang bisa menjawabkan persoalan aku
lantas aku dibiar sendiri.
Mei 2016
Stasiun Bandar Tasik Selatan
Labels:
Puisi
May 9, 2016
“Kita orang baik-baik,” pesan bunda
Aku bukan pelari tukar ganti yang
bersilih baton merebut tempat di hati orang-orang.
Aku bukan kupu-kupu malam yang
suka berpesta di balik derita di sudut bilik sepi
dan sedih punya orang-orang.
Aku bukan pendengki
pada segala pelangi yang memberi rona
pada langit orang-orang.
Bahkan untuk langit memacu pistol air
merembes rona-rona pelangi
juga tidak bisa, tidak termampu.
Dan apa pula aku yang bukan siapa-siapa
tetapi manusia, manusia lemah.
Apa pula untuk berbagi hati saja
sudah tidak berdaya.
Malah orang-orang itu
aku biarkan saja supaya bahagia.
Kadang pernah juga
aku mahu melempar akrilik hitam
ke pelangi jingga mereka-mereka
tetapi bunda bilang,
“Jangan diberantak punya mereka-mereka,”
“Kita orang baik-baik,” pesan bunda.
Mei 2016
Di dalam bas di Jelatek
bersilih baton merebut tempat di hati orang-orang.
Aku bukan kupu-kupu malam yang
suka berpesta di balik derita di sudut bilik sepi
dan sedih punya orang-orang.
Aku bukan pendengki
pada segala pelangi yang memberi rona
pada langit orang-orang.
Bahkan untuk langit memacu pistol air
merembes rona-rona pelangi
juga tidak bisa, tidak termampu.
Dan apa pula aku yang bukan siapa-siapa
tetapi manusia, manusia lemah.
Apa pula untuk berbagi hati saja
sudah tidak berdaya.
Malah orang-orang itu
aku biarkan saja supaya bahagia.
Kadang pernah juga
aku mahu melempar akrilik hitam
ke pelangi jingga mereka-mereka
tetapi bunda bilang,
“Jangan diberantak punya mereka-mereka,”
“Kita orang baik-baik,” pesan bunda.
Mei 2016
Di dalam bas di Jelatek
Labels:
Puisi
Apr 26, 2016
Jahat
23 April 2016, jam lima lewat lima menit sore.
Pertemuan dua hati. Bertentang mata dengan mata yang sama pada tahun 2005, 2007, dan 2015 kelmarin. Di kedai kopi di kota Kuala Lumpur. Konfrantasi dan konfesi. Menjadi saksi yang sakit, terus sakit, tetapi dipura-purakan.
Yang meninggalkan, tetap perlu meninggalkan.
Yang ditinggalkan pula, terus-terus dibiar bahagia.
Persoalannya – Apa ini adil buat kita-kita?
Jawabannya gak pernah membahagiakan.
Yang penting – Ironi.
Dan, jahat.
April 2016
Kedai kopi di kota Kuala Lumpur
Labels:
Prosa
Semua Tentang Kau
Kau bukan sesuatu nama
Atau sebuah cebisan lukisan
Atau sekeping nota cinta
Dan kau bukan Venus di cakerawala
Kau adalah baju yang kau pakai
Kau adalah lagu yang terperangkap dalam kepala kau
Dan kau adalah fikiran kau
Dan kau adalah makanan yang kau makan
Di pagi Sabtu kau...
Kau sebenarnya adalah berjuta perkara
Tetapi orang-orang memilih
Untuk melihat berjuta perkara
Yang tidak ada pada kau
Kau bukan dari mana kau datang
Kau adalah ke mana yang kau ingin pergi
Dan aku juga mahu
Ke tempat yang kau ingin pergi.
Disember 2015
Bilik konversasi solo
Atau sebuah cebisan lukisan
Atau sekeping nota cinta
Dan kau bukan Venus di cakerawala
Kau adalah baju yang kau pakai
Kau adalah lagu yang terperangkap dalam kepala kau
Dan kau adalah fikiran kau
Dan kau adalah makanan yang kau makan
Di pagi Sabtu kau...
Kau sebenarnya adalah berjuta perkara
Tetapi orang-orang memilih
Untuk melihat berjuta perkara
Yang tidak ada pada kau
Kau bukan dari mana kau datang
Kau adalah ke mana yang kau ingin pergi
Dan aku juga mahu
Ke tempat yang kau ingin pergi.
Disember 2015
Bilik konversasi solo
Labels:
Puisi
Kita-Kita di Persimpangan
Kita-kita,
Mencari jalan pulang.
Dipersimpangan,
Lalu menyapa
Lewat doa-doa.
November 2015
Bilik konversasi solo
Mencari jalan pulang.
Dipersimpangan,
Lalu menyapa
Lewat doa-doa.
November 2015
Bilik konversasi solo
Labels:
Puisi
Bintang Malam
Langit malam gelap itu
Tidak bermakna ia tidak bermakna
Bahkan bintang
Tidak bakal menyinar
Tanpa langit malam gelap
Kau,
Seolahnya si bintang
Dan aku, malam..
November 2015
Bilik konversasi solo
Tidak bermakna ia tidak bermakna
Bahkan bintang
Tidak bakal menyinar
Tanpa langit malam gelap
Kau,
Seolahnya si bintang
Dan aku, malam..
November 2015
Bilik konversasi solo
Labels:
Puisi
Jun 26, 2015
Hembus Bidas Bahas Cantas
Semakin hari-hari berubah
Semakin kita juga berubah
Aku, berubah
Kau juga, berubah...
Kau hembus, aku bidas
Aku bahas, kau cantas
Kau kata, aku yang mahu menang
Aku kata, kau yang tidak mahu duduk tenang
Di pengakhiran,
Kita sama-sama kecapekan
Aku,
Kecapekan...
Jun 2015
Kantor
Nota : Maafkan aku sekalian yang jahatku...
Semakin kita juga berubah
Aku, berubah
Kau juga, berubah...
Kau hembus, aku bidas
Aku bahas, kau cantas
Kau kata, aku yang mahu menang
Aku kata, kau yang tidak mahu duduk tenang
Di pengakhiran,
Kita sama-sama kecapekan
Aku,
Kecapekan...
Jun 2015
Kantor
Nota : Maafkan aku sekalian yang jahatku...
Labels:
Puisi
Jun 13, 2015
Kartu Gores dan Menang
Berdikit-dikit terjinjit-jinjit
Menghampiri dan mengambil-peduli
Pokoknya tentang soal apa bisa tercuit?
Apa harus ditulis yang menghampiri mengambil-peduli itu
Ke kartu baharu?
Atau goreskan aja
Lantas bisa terlihat, menang, apa enggak?
Lalu aku bikin sisipan ke poket bagian kiri?
Apa aku perlu?
Jun 2015
Setiawangsa
Menghampiri dan mengambil-peduli
Pokoknya tentang soal apa bisa tercuit?
Apa harus ditulis yang menghampiri mengambil-peduli itu
Ke kartu baharu?
Atau goreskan aja
Lantas bisa terlihat, menang, apa enggak?
Lalu aku bikin sisipan ke poket bagian kiri?
Apa aku perlu?
Jun 2015
Setiawangsa
Labels:
Puisi
Subscribe to:
Posts (Atom)